Rabu, 08 Juni 2011

LINGUISTIK BANDINGAN HISTORIS, menganalisis kekerabatan bahasa bugis dan makassar



NO

BAHASA INDONESIA
BAHASA BUGIS BONE

BAHASA MAKASSAR

KET.
1
Makan
Manre
Nganre
*
2
Tidur
Matinro
Attinro
*
3
Minum
Minung
Nginung
*
4
Jalan
Jokka
Jappa
**
5
Baju
Waju
Baju
*
6
Celana
Sulara
Saluara
*
7
Meja
Mejang
meja
*
8
Kursi
Kadera
Kadera
*
9
Air
Wae     
Je’ne
**
10
Pendek
Mapance
Bodo
*
11
Panjang
Malampe
La’bu
*
12
Tinggi
Matanre
Tinggi
**
13
Lemari
Lemari
Lamari
*
14
Tas
Tase
Tas
*
15
Buku
Bo’bo
Buku
*
16
Piring
Penne
Panne
*
17
Sepatu
Sapatu
Sapatu
*
18
Sendal
Sandala
Sandala
*
19
Sepatu
Sapatu
Sapatu
*
20
Kasur
Kasoro
Kasoro
*
21
Lombok
Ladang
Lada
*
22
Mandi
Cemme
A’je’ne
**
23
Sumur
Bujung
Bubung
*
24
Menangis
Kerlla’
Ngarru
**
25
Orang
Tau
Tau
*
26
Tangan
Jari
Limang
*
27
Kaki
Aje
Bangkeng
**
28
Kepala
Ulu
Ulu
*
29
Telinga
Dacculing
Toling
**
30
Hidung
Ingnge’
Ka’murung
**
31
Mulut
Timu
Bawa
**
32   
Rambut
Gemme’
U’
**
33
Ketiak
Alepa’
Kalepa’
*
34
Sarung
Lipa’
Lipa’
*
35
Ayam
Manu’
Jangang
**
34
Semut
Bere-bere
Kaluara
**
35
Pedas
Mapesse
Passe
*
36
Manis
Macenning
Tanning
*
37
Sayur
Kaju
Gangang
**
38
Ikan
Bale
Juku
**
39
Rumah
Bola
Balla’
**
40
Cermin
Camming
Carammeng
*
41
Hidup
Tuo
Tallasa’
**
42
Gelang
Potto
Ponto
*
43
Emas
Ulaweng
Bulaeng
*
44
Uang
Doi
Doe
*
45
Nasi
Nanre
Kanre
*
46
Mangga
Pao
Taipa
**
47
Tomat
Lambace
Tammate
**
48
Merica
Barica
Marica
*
49
Asam
Cempa
Camba
**
50
Hujan
Bosi
Bosi
*
51
Jalan
Jokka
Jappa
**
52
Kunci
Goncing
Konci
**
53
Memasak
Mannasu
Appallu
**
54
Menggoreng
Massanggara
Anynyanggara
*
55
Pisang
Utti
Unti
*
56
Beras
Were’
Berasa
**
57
Kelapa
Kaluku
Kaluku
*
58
Nama
Aseng
Areng
*
59
Belimbing
Benang
Bainang
*
60
Ular
Ula’
Ulara’
*
61
Anjing
Asu
Kongkong
**
62
Monyet
Lanceng
Dare’
**
63
Bantal
Angkalullung
Pa’lungang
**
64
Kamar
Kamara’
Kamara’
*
65
Pasar
Pasa’
Pasara
*
67
Keranjang
Karanjeng
karanjeng
*
68
Tangga
A’deneng
Tuka’
**
69
Nakal
Mabenna’
Banna’
*
70
Mobil
Oto
Oto
*
71
Motor
Motoro
Motoro
*
72
Kue
Beppa
Kanrejawa
**
73
Lari
Lari
Lari
*
74
Sampah
Roppo’
Loro
**
75
Pegang
Katenning
Ti’gala
**
76
Karet
Getta
Gatta
*
77
Cincin
Ciccing
Cincing
**
78
Sisir
Jakka
Jangka
*
79
Dandan
Mammode
A’mode
*
80
Pengantin
Botting
Bunting
*
81
Orangtua
Tomatoa
Totoa
*
82
Baskom
Katoang
Katoang
*
83
Botol
Botolo
Botolo
*
84
Dinding
Renring
Rinring
*
85
Pintu
Tange’
Pakke’bu
**
86
Sendok
Sinru’
Si’ru
*
87
Satu
Se’di
Se’re
**
88
Tiga
Tellu
Tallu
*
89
Empat
Eppa’
Appa’
*
90
Enam
Enneng
Annang
*
91
Delapan
Arua
Sangantuju
**
92
Sembilan
Asera
Salapang
*
93
Sepuluh
Seppulo
Sampulo
*
94
Pintar
Macca
Cara’de
**
95
Bodoh
Dongo’
Tolo’
*
96
Permen
Golla-golla
Golla-golla
*
97
Jongkok
Maccekkeng
Accengke
*
98
Berdiri
Tettong
Menteng
**


99
Kunci
Goncing
Konci
*
100
Gembok
Reppo-reppo
Rappo-rappo
*

sintaksis bahasa indonesia


Pengertian Frasa
Terdapat dua pendapat tentang pengertian frasa, yaitu :
  1. frasa diartikan sebagai suatu fungsi
  2. frasa diartikan sebagai suatu bentuk

      (Samsuri,1985:93) mengatakan bahwa, sebagai suatu fungsi frasa adalah satuan sintaksis terkecil yang merupakan pemadu kalimat. Jadi, frasa dapat terdiri atas campuran kata dan bentukan-bentukan.
Frasa mempunyai dua sifat yaitu :
1.      frasa merupakan satuan gramatik yang terdiri dari dua kata atau lebih
2.      frasa merupakan satuan yang tidak melebihi batas fungsi, ialah, maksudnya frasa itu selalu terdapat dalam satu fungsi, ialah dalam S, P, O, PEL, atau KET.

Macam-macam Frasa
Frasa dapat diklasifikasikan dengan kriteria :
  1. hubungan unsur dalam struktur
  2. jenis kata yang menjadi unsur intinya
Berdasarkan hubungan unsure dalam struktur, frasa dibedakan atas :
a.       frasa endosentris
b.      frasa eksosentris
Berdasarkan jenis kata yang menjadi unsure intinya, frasa dibedakan atas :
  1. frasa nominal
  2. frasa verbal
  3. frasa ajektival
  4. frasa numeralia
  5. frasa proposisional
  6. frasa pronominal
  7. frasa adverbial

Frasa Endosentris
      Frasa endosentris adalah frasa yang berdistribusi parallel dengan intinya. Inti frasa adalah salah satu unsure frasa yang jenis katanya sama dengan jneis frasa tersebut.
Berdasarkan jumlah intinya, frasa endosentris dibedakan atas:
1.      frasa endosentris koordinatif
Frasa endosentris koordinatif adalah frasa yang intinya mempunyai referensi yang berbeda-beda. Frasa ini terdiri atas unsure-unsur yang setara. Kesetaraannya tersebut terlihat dari kemungkinannya unsure-unsur itu dihubungkan oleh kata sambung danatau. atau
Contoh : paman dan bibi sudah lama tidak menjenguk kami.
               Siapa yang harus pergi, saya atau anda ?
Frasa koordinatif yang tidak menggunakan kata sambung disebut frasa parataktis.
Contoh: hilir mudik, tutur sapa, putih bersih, dll.

2.      frasa endosentris atributif
Frasa endosentris atributif adalah frasa yang mengandunghanya satu inti.. frasa ini terdiri atas unsure-unsur yang tidak setara, karena itu unsure-unsur frasa ini tidak mempunyai potensi untuk dihubungkan dengan kata sambung dan atau atau.
Contoh : anak nakal itu dihukum gurunya.
               Sampai sekarang adik belum pulang .

3.      frasa endosentris apositif
Frasa endosentris apositif adalah frasa yang inti-intinya mempunyai referensi yang sama. Unsure-unsur frasa ini tidak dapat dihubungkan dengan kata sambung dan atau atau dan secara semantis  unsure yang satu sama dengan yang lainnya. Frasa endosentris apositif umumnya bersifat nominal.
Contoh: Si inem, pelayan seksi itu, dimarahi majikannya.
              Ali, anak Amad, akan pergi ke Jakarta.



Frasa Eksosentris
                        Frasa eksosentris adalah frasa yang berdistribusi komplementer dengan unsure-unsurnya. Karena tidak ada unsure-unsurnya yang berdistribusi parallel dengan frasa eksosentris, maka frasa tersebut dikatakan tidak mempunyai inti. Frasa eksosentris mempunyai dua unsur, yaitu:
1.      perangkai (director) yang berupa preposis atau partikel
2.      sumbu (aksis) yang berupa kata atau kelompok kata
Berdasarkan jenis perangkai atau  direktornya, frasa eksosentris dibedakan atas :
1.      frasa eksosentris direktif/preposisional
Frasa eksosentris direktif adalah frasa eksosentris yang perangkainya berupa preposisi. Frasa ini semuanya berdistribusi komplementer dengan unsure-unsurnya, baik dengan perangkai maupun dengan sumbunya.
Contoh: pendekar itu memainkan pedang dengan tangkas.
              Mereka bekerja keras demi kehidupan yang lebih layak.
2.      frasa eksosentris non direktif
Frasa eksosentris non direktif adalah frasa eksosentris yang perangkainya bukan preposisi. Frasa eksosentris non direktif ada yang berdistribusi komplementer dan ada yang berdistribusi parallel dengan salah satu unsurnya (sumbunya).
Contoh yang berdistribusi kemplementer dengan sumbunya :
- Yang mengarang buku ini ali .
- Para fakir miskin mendapat santunan dari pemerintah.
Contoh yang berditribusi parallel dengan sumbunya:
-          yang itu jangan diambil, sudah laku.
-          Sang suami harus dapat menjadi pelindung keluarga

Frasa Nominal
            Frasa nominal adalah frasa yang memiliki distribusi yang sama dengan nomina. Frasa nominal dapat berdistribusi endosentris, baik yang atributif, koordinatif, maupun apositif, dan dapat pula bersifateksosentris non direktif.


Frasa nominal endosentris atributif
 Adalah frasa yang intinya terdiri atas nomina dan berdistribusi parallel dengan inti tersebut. Secara kategori, frasa ini dapat terdiri atas :
1.      nomina/frasa nominal +  nomina/frasa nominal
Setiap pagi orang itu duduk-duduk di depan warung kopi.
2.      nomina/frasa nominal + verba/frasa verbal
Dosen itu mengajarkan mata kuliah membaca lanjut.
3.      nomina/frasa nominal +  frasa eksosentris direktif
Kereta api dari Surabaya terlambat dating.
4.      nomina/frasa nominal + frasa numeralia
Ibu membeli pisang raja lima sisir.
5.      numeralia/frasa numeralia + nomina/frasa nominal
Petani itu memiliki dua ekor lembu.
6.      nomina/frasa nominal + ajektiva/frasa ajektiva
Gunung Krakatau itu mengeluarkan lahar panas.

Frasa nominal endosentris koordinatif
            Frasa nominal endosentris koordinatif unsure-unsurnya terdiri atas nomina yang dihubungkan dengan konjungsi dan, atau, baik, maupun… atau tanpa konjungsi(frasa parataktis).
Contoh : Ibu ke pasar membeli kobis, kentang, saei, dan wortel.
               Ayah dan Ibu pergi ke Surabaya.

Frasa nominal endosentris apositif
Frasa nominal endosentris apositif, unsure-unsurnya terdiri atas nomina/frasa nominal yang dihubungkan dengan tanda koma.
Contoh : Elsa, anak saya yang bungsu, bercita-cita menjadi dokter.
               Bung Karno, Presiden pertama Republik Indonesia pandai berpidato.



Frasa nominal eksosentris non-direktif
            Frasa nominal eksosentris non-direktif, perangkai (direktornya) terdiri atas artikula atau partikel, sumbu (aksisnya) terdiri atas nomina/frasa nominal , verba/frasa verbal, ajektiva/frasa ajektival, frasa direktif, numerlaia/frasa numeralia.
Contoh yang perangkai (direktornya) artikula:
- Cerita si kancil sangat disenangi oleh anak-anak.
- Yang besar dipisahkan dari yang kecil.
Contoh yang perangkai (direktornya) partikel:
-Para undangan diharap segera masuk.
-Kaum buruh pabrik menuntut kenaikan gaji

Frasa Verbal
            Frasa verbal adalah frasa yang mempunyai distribusi parallel dengan verba. Unsure-unsur frasa verbal adalah verba sebagai inti dan dengan verba/frasa verbal, ajektiva/frasa ajektival, frasa eksosentris direktif, adverbial/frasa adverbial sebagai atributnya. Frasa verbal hanya bersifat endosentris, baik yang atributif maupun yang koordinatif.
Contoh frasa  verbalendosentris atributif :
1.      verba/frasa verbal + verba/frasa verbal
 Anak-anak itu pergi mandi ke sungai.
2.      verba/frasa verbal + ajektiva/frasa ajektival
Para tamu itu  sedang tidur nyenyak di ruang tamu.
3.      verba/frasa verbal + frasa eksosentris direktif
Anak-anak itu makan dengan lahapnya.
4.      adverbial/frasa adverbial + verba/frasa verbal
Buku yang dipinjamnya itu sudah dikembalikan.





Frasa Ajektival
            Frasa ajektival adalah frasa yang mempunyai distribusi parallel dengan ajektiva.unsur-unsur frasa ajektival adalah ajektiva sebagai intinya dan dengan ajektiva/frasa ajektival, adverbial/frasa ajektival, dan nomina sebagai atributnya. Frasa ajektival  hanya bersifat endosentris, baik yang atribuif maupun yang koordinatif.
Contoh frasa ajektival endosentris atributif:
- Kopi ini kurang manis.
- Jauh di mata, tetapi dekat di hati.

Contoh frasa ajektival endosentris koordinatif:
-          Benar atau salah, itu bukan urusan anda.
-          Pemuda itu tampan, jujur, setia, sopan, dan cerdas.

Frasa Numeralia
            Frasa numeralia adalah frasa yang mempunyai distribusi parallel dengan numeralia. Unsure frasa numeralia adalah numeralia sebagai inti dan dengan numeralia /frasa numeralia sebagai atributnya.
Contoh: Ibu membeli sepuluh butir telur ayam kampung.

Frasa Preposisional
            Frasa preposisional adalah frasa yang perangkai (direktornya) menduduki posisi di depan sumbu (aksisnya). Frasa ini diawali oleh preposisi sebagai perangkainya, diikuti oleh nomina/frasa nominal, verba/frasa verbal. Frasa preposisional bersifat eksosentris direktif.
1.      preposis/frasa preposisional + nomina/frasa preposisional
contoh : Kubeli hadiah yang unik untuk anakku yang berulang tahun.
2.      preposisi/frasa preposisional + verba/frasa verbal
contoh : Harta miliknya habis terjual untuk membayar hutangnya.



Frasa Pronominal
            Frasa pronominal adalah frasa yang intinya terdiri atas nomina. Unsure frasa pronomina adalah pronominal sebagai inti dan dengan pronomina, numeralia, demonstrative, adverbial, dan frasa nominal sebagai atributnya. Frasa pronominal bersifat endosentris, baik yang atributtif, koordinatif, maupun apositif.
Contoh:
1.      pronominal + pronominal
contoh: Pilih salah satu, saya atau dia.
2.      pronominal + numeralia
contoh: Kami berdua sudah bersepakat untuk bertransmigrasi.
3.      pronominal + demonstrativ
contoh: Kita ini sudah termasuk orang yang beruntung.
4.      Pronomina + adverbia
Contoh: Mungkin dia yang terpilih sebagai kepala desa.
5.      pronominal + frasa nominal
contoh : Kami, orang tua, harus menjadi contoh bagi anak-anak.

Frasa Adverbial
                        Frasa adverbial adalah frasa yang mempunyai distribusi parallel dengan adverbial. Frasa adverbial terdiri atas adverbial saja sebagai unsurnya, dan bersifat endosentris atributif.
Contoh :  - Pemilihan kepala desa itu tidak mungkin lagi ditunda.
    - Tidak mungkin dua tokoh yang bermusuhan itu dipersatukan.









pandangan ISLAM tentang VALENTINE

Umat Islam mestilah memiliki kepekaan dalam mengenal-pasti mekanisma yang digunakan oleh musuh-musuh Islam untuk mengubah kefahaman kita terhadap Islam. Apabila Umat Islam digalakkan untuk melibatkan diri didalam smabutan Hari Valentine mereka diperdayakan untuk meninggalkan nilai-nilai akhlak, standard bertingkah-laku, kehormatan dan maruah yang Islami, yang diperintahkan untuk dipelihara didalam menjalinkan perhubungan lelaki dan wanita.
Adalah amat perlu bagi kaum muslimin untuk menyedari bahawa Islam mengkehendaki mereka menjadikan tempat rujukan mereka sebagai hak ekslusif bagi Hukum Syarak. Ia adalah satu-satunya sumber yang sah bagi perayaan, tradisi atau amalan yang dibenarkan oleh Islam bagi Muslimin untuk mengikutinya. Islam adalah bertentangan secara total dengan konsep sekularisma. Ia juga tidak memberi sebarang ruang kepada konsep batil “kebebasan individu”. Sebaliknya, Islam hadir untuk mengatur urusan manusia didalam setiap aspek secara menyeluruh, membebaskan mereka dari ketundukan terhadap manusia atau hawa-nafsu mereka sendiri, dan memimpin mereka kepada hukum Pencipta mereka yang sempurna.

كان لأهل المدينة في الجاهلية يومان من كل سنة يلعبون فيهما
فلما قدم النبي صلى الله عليه وسلم المدينة قال قد كان لكم يومان
تلعبون فيهما وقد أبدلكم الله بهما خيرا منهما يوم الفطر ويوم النحر

Diriwayatkan bahawa Anas Bin Malik (ra) berkata; “Apabila Nabi saw berhijrah ke Madinah, peduduk disana memiliki dua hari perayaaan Jahiliyyah. Dia sawbersabda, “Apabila aku datang kepada kamu, kamu memiliki dua hari perayaan yang kamu sambut ketika masa jahiliyyah. Allah telah mengantikannya denga hari yang lebih baik, iaitu hari raya Fitr dan hari raya Adha.”

Berasaskan ini adalah jelas bahawa Islam telah melarang sambutan terhadap perayaan, samada ianya krismas, tahun baru, deepavali, dan sebagainya. Dari asal-usulnya Hari St Valentine adalah perayaan musyrikin yang menganjurkan pergaulan bebas didalam masyarakat dan ianya terpesong jauh dari apa yang dikehendaki oleh Islam. Oleh itu, menyambut dan melibatkan diri dengannya adalah diharamkan oleh Islam.